Kristina Lawi lahir dan besar di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan latar belakang keluarga sederhana, Kristina tumbuh bersama lingkungan penuh keramahtamahan khas Timur Indonesia. Ia melihat banyak potensi wisata di daerahnya, tetapi sangat sedikit penduduk lokal yang memahami dan memanfaatkan peluang itu.
Setelah menyelesaikan pendidikan di universitas lokal di Kupang, Kristina memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan tidak mengikuti arus migrasi ke kota besar. Baginya, NTT memiliki kekayaan budaya, alam, dan keramahan masyarakat yang luar biasa, namun minim perhatian dan pengembangan di bidang pariwisata.
Di tahun 2016, Kristina mendirikan Lawi Tour—sebuah biro perjalanan yang menyasar wisatawan lokal maupun asing untuk menikmati pesona NTT. Nama "Lawi" diambil dari nama keluarga, sebuah bentuk rasa cinta Kristina pada akar dan identitasnya sendiri.
Awalnya, Lawi Tour hanya menawarkan paket wisata sederhana ke tempat-tempat populer seperti Pulau Komodo, Danau Kelimutu, dan Labuan Bajo. Namun, Kristina ingin lebih dari itu: Ia bermimpi menghadirkan pengalaman wisata yang tidak sekadar melihat, tapi juga merasakan dan menyatu dengan budaya lokal.
Tantangan pun datang. Infrastruktur pariwisata di NTT belum setara dengan daerah lain, akses transportasi sulit, dan masyarakat lokal belum memahami manfaat ekonomi dari industri pariwisata. Kristina tak menyerah. Ia mulai dengan mengedukasi warga mengenai peluang pariwisata, mengajak mereka menjadi pemandu wisata, dan memberikan pelatihan hospitality.
Untuk membedakan Lawi Tour dari biro wisata lain, Kristina menggagas konsep “wisata berbasis komunitas”. Setiap paket wisata Lawi Tour melibatkan komunitas lokal, dari menyediakan homestay, makanan tradisional, hingga pertunjukan budaya. Para wisatawan tidak hanya berkunjung, tapi tinggal dan merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat NTT.
Kristina juga aktif menggunakan media sosial, memperkenalkan destinasi-destinasi tersembunyi di NTT yang belum banyak dikenal. Dengan fotografi yang menarik dan cerita inspiratif, Lawi Tour semakin diminati terutama oleh wisatawan muda dan komunitas traveler.
“Jika ingin NTT dikenal dunia, maka kita harus memperkenalkan keunikan lokal kita sendiri,” ujar Kristina dalam sebuah wawancara.
Lawi Tour bukan hanya soal bisnis, tetapi juga pemberdayaan ekonomi. Kristina memprioritaskan penduduk lokal menjadi mitra Lawi Tour. Mulai dari ibu-ibu yang menyediakan makanan, pemuda yang menjadi pemandu wisata, hingga pengrajin tenun yang diberi pelatihan agar produk mereka bisa dijual ke wisatawan.
Banyak keluarga di desa-desa wisata yang kini memiliki penghasilan tambahan dari Lawi Tour. Kristina juga memperkenalkan model ekonomi sirkuler; sebagian keuntungan Lawi Tour digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan pelatihan di desa-desa mitra.
Berkat inovasi dan dampak yang dihasilkan, Lawi Tour meraih berbagai penghargaan tingkat nasional. Di tahun 2019, Lawi Tour masuk dalam nominasi Indonesia Tourism Award sebagai biro wisata terbaik berbasis komunitas. Kristina juga diundang dalam berbagai seminar pariwisata, membagikan kisah perjuangan dan motivasinya kepada pelaku usaha pariwisata di daerah lain.
Media lokal dan nasional mulai mengangkat cerita Kristina Lawi sebagai sosok inspiratif dari Timur Indonesia. Banyak anak muda dari NTT tergerak mengikuti jejak Kristina, mendirikan usaha dan memperkenalkan pariwisata daerahnya.
Pandemi COVID-19 menjadi tantangan besar bagi industri pariwisata. Lawi Tour mengalami penurunan jumlah wisatawan hampir 80%. Kristina tidak menyerah; ia mengadaptasi strategi, meluncurkan virtual tour dan pelatihan online bagi masyarakat untuk memanfaatkan waktu luang dengan belajar bahasa asing dan hospitality.
Setelah pandemi mulai mereda, Lawi Tour kembali bangkit dengan menghadirkan paket wisata “new normal” yang memprioritaskan kesehatan dan keselamatan. Kristina memperkuat kerja sama dengan pelaku UMKM di NTT, menjual oleh-oleh khas NTT secara online, sehingga ekonomi tetap bergerak walau wisatawan belum membludak seperti sebelumnya.
Kristina Lawi percaya, generasi muda adalah kunci kemajuan pariwisata di Nusa Tenggara Timur. Ia aktif membina kelompok-kelompok pemuda desa, menggelar pelatihan mengenai pariwisata, storytelling, dan pemasaran digital. Banyak pemuda yang kini menjadi duta wisata lokal, mempromosikan desanya lewat media sosial.
Kisah Kristina Lawi menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak mustahil diraih meski berasal dari daerah terpencil. Dengan tekad, inovasi, dan kolaborasi, Lawi Tour mampu memajukan pariwisata sekaligus ekonomi rakyat NTT.
Kristina tidak berpuas diri. Ia terus memperluas jangkauan Lawi Tour ke pulau-pulau lain di NTT, seperti Sumba, Rote, dan Alor. Fokus utama tetap pada pariwisata berkelanjutan, pelestarian budaya dan lingkungan, serta pelibatan masyarakat lokal.
Kristina bermimpi suatu hari Nusa Tenggara Timur bukan hanya destinasi wisata internasional, tetapi juga menjadi contoh pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Indonesia. Ia percaya, kekuatan utama NTT adalah masyarakat yang ramah, budaya yang kaya, dan alam yang indah—semua itu harus dijaga bersama dengan Lawi Tour sebagai pelopor.